Sabtu, 24 November 2012

Gaya hidup dalam perilaku konsumen


Gaya Hidup
Gaya hidup menurut Sumarwan (2002) merupakan suatu pola konsumsi
yang menggambarkan pilihan seseorang dalam menggunakan waktu dan uang.
Pola hidup seseorang yang tergambarkan pada  activities, interest, dan  opinions
(AIO). Sumarwan (2004) menyebutkan salah satu contoh kategori dimensi AIO
yang dilihat dari pengukuran psikografik adalah  Activities/kegiatan (pekerjaan,
hobi, kegiatan social, liburan, hiburan, belanja). Interest/minat (keluarga, rumah,
mode,  media, rekreasi).  Opinions/pendapat (tentang diri mereka sendiri, isu-isu
sosial, bisnis, produk, budaya, ekonomi). Gaya hidup merupakan hasil
penyaringan dari aspek interaksi sosial, budaya, keadaan, dan hasil pengaruh
beragam variabel bebas yang terjadi di dalam keluarga (Diana 2006).
Hubungan antara gaya hidup dan konsep diri ditunjukan dalam penelitian
terbaru yang membandingkan berbagai kegiatan, minat, dan perilaku yang
berkaitan dengan gaya hidup antara mereka yang memiliki konsep diri bebas dan
saling tergantung. Konsep diri bebas lebih cenderung mencari pengalaman dan
kesenangan melalui perjalanan, olahraga, dan hiburan; menjadi pemimpin opini;
dan lebih memilih majalah dibandingkan TV. Konsep diri saling tergantung 12
cenderung lebih berurusan dengan rumah dan kegiatan serta hiburan yang
berkaitan secara domestik termasuk memasak di rumah.
Pengukuran untuk melihat seberapa besar gaya hidup mempengaruhi
terhadap individu menggunakan analisis psikografis. Analisis psikografis adalah
sebuah teknik yang menyelidiki bagaimana orang hidup, apa yang menarik minat
mereka, dan apa yang mereka sukai (Churchill Jr, Gilbert A 2005). Menurut Josep
Plumer (1974) dalam Kasali (2007), segmentasi gaya hidup mengukur aktivitasaktivitas manusia dalam hal sebagai berikut:
1. Bagaimana mereka menghabiskan waktunya
2. Minat mereka, apa yang dianggap penting di sekitrnya
3. Pandangan-pandangan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain
4. Karakter dasar seperti tahap yang mereka lalui dalam kehidupan, penghasilan,
dan tempat tinggal mereka.

Sumber : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54416/12ksa_BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf?sequence=3

Kepribadian dalam perilaku konsumen


Teori Kepribadian
Pattern yang memperhatikan stabilitas atau perubahan sifat kepribadian
(Costa & McCrae diacu dalam Papalia 2008) dan sekaligus ancangan terhadap
kuantitatif pada studi kepribadian adalah menggunakan pendekatan teori ciri
(Trait Theory). Ciri atau  trait merupakan karakteristik psikologi yang khusus,
menurut Schiffman dan Kanuk (2004) karakteristik itu didefinisikan sebagai “any
distinguishing, relatively, enduring way in which one individual differs from 9
another”.  Trait didefinisikan sebagai sifat atau fisik yang membedakan antara
satu individu dengan individu yang lain, bersifat permanen, dan konsisten
(Sumarwan 2004). 
Model yang dikembangkan oleh Costa dan McCrae terdiri dari lima
pattern faktor yang biasa dikenal dengan nama pattern NEOCA yaitu neuroticism,
extravertion, openness of experience, conscientiousness, dan agreeabless. Model
ini dimodifikasi oleh Hadi (2007) terhadap kepribadian merek, sehingga
patternnya terdiri atas  extraversion, aggreablenss, consciousness, sophistication,
dan ruggedness:
1. Extraversion (terbuka) adalah individu yang menyukai perhatian kepada orang
lain dan bersifat sosial. Selain itu mereka lebih menyenangi kehebohan dan
menikmati kehidupan.   
2. Aggreablenss adalah kepribadian yang menunjukkan keramahan kepada orang
lain
3. Consciousness (teliti) yaitu individu yang memiliki kesadaran diri untuk
mengerjakan sesuatu lebih efektif
4. Sophistication  adalah bersifat keduniawian yang meliputi percaya diri dan
mempunyai selera yang tinggi 
5. Ruggedness (menyenangkan), yaitu ketangguhan, keberanian, maskulin, dan
keras
Solomon (2002) mengatakan bahwa ciri kepribadian yang relevan dalam
perilaku konsumen adalah  innovativeness (derajat seseorang suka mencoba halhal yang baru),  materialism (jumlah penekanan ditempatkan pada produk baru),
self-consciousness (tingkat untuk orang yang sengaja memonitor dan mengontrol
diri yang diproyeksikan kepada orang lain), dan  need cognition (seseorang
berpikir tentang sesuatu dan tambahan menimbangkan usaha yang dibutuhkan
untuk memproses informasi mengenai produk).
Orang dapat membuat penilaian yang relatif baik mengenai ciri orang lain
dan bagaimana ciri tersebut berhubungan dengan pilihan. Perbedaan dalam
kegiatan dan preferensi pembeli pada gilirannya dapat dimanfaatkan secara
bermakna melalui modifikasi di dalam bauran pemasaran (Engel, Blackwell,
Miniard 1994).

Sumber : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54416/12ksa_BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf?sequence=3

Konsep diri dalam perilaku konsumen


Konsep Diri
Konsep diri merupakan evaluasi secara menyeluruh (Santrock 2009) baik
dari persepsi atau pandangan-pandangan terhadap dirinya sendiri (Sutisna 2001).
Konsep diri merupakan identitas diri sebagai skema dasar yang terdiri atas
kumpulan keyakinan dan sikap terhadap diri sendiri yang terorganisir (Baron
Robert A & Byrne Donn 2004).
Menurut Calhoun dan Cocella (1990) dalam Habibullah (2010) konsep diri
merupakan pandangan terhadap diri sendiri yang meliputi dimensi pengetahuan
tentang diri sendiri, pengharapan mengenai diri sendiri, dan penilaian tentang diri
sendiri. Lain halnya dengan kepribadian, konsep diri bukanlah faktor bawaan,
tetapi konsep diri berkembang dalam diri seseorang melalui pengalaman,
kemudian dipelajari, serta adanya interaksi dengan orang lain.
Menurut Tarwoto dan Wartonah (2003) dalam Syahputra Naam (2009)
konsep diri merupakan semua perasaan, kepercayaan dan nilai yang diketahui
individu tentang dirinya sendiri serta adanya pengaruh dalam berhubungan
dengan orang lain.
Konsep diri adalah bagaimana kita berfikir dan mengevaluasi diri kita
seperti apa yang meliputi fisik, moral, personal, keluarga dan dimensi situasi
sosial. Konsep diri juga dipengaruhi oleh identitas diri. Adapun faktor yang
mempengaruhinya adalah pendapat dan penilaian orang lain terhadap kita serta
perbandingan cara  sosial dan persepsi yang sama atau berbeda dengan orang lain.
Menurut Sutisna (2001), konsep diri diatur oleh dua prinsip yaitu
keinginan untuk mencapai konsistensi dan keinginan untuk meningkatkan harga
diri. Keinginan untuk mencapai konsistensi adalah seberapa besar keinginan
konsumen dalam konsistensian terhadap diri sendiri dalam perilaku pembelian.
Keinginan untuk meningkatkan harga diri lebih kepada pandangan orang lain
terhadap dirinya sendiri.
Menurut Sutisna (2001), konsep diri dibedakan menajdi tiga bagian, yaitu:
1. Dimensi konsep  actual self   (diri yang sebenarnya) lebih kepada pembelian
yang dilakukan oleh konsumen dipengaruhi oleh konsep diri yang mereka
miliki dan adanya kesamaan antara citra merek dan citra diri. 11
2. Konsep ideal self (diri yang ideal) ini berhubungan dengan self esteem yang
merupakan sikap positif dari seseorang terhadap dirinya sendiri. Self esteem
yang tinggi adalah seseorang yang menyukai dirinya sendiri, sedangkan
seseorang yang memiliki self esteem yang rendah lebih mudah diprediksi. Hal
ini dikarenakan skema diri yang negatif lebih diorganisir dibandingakn dengan
skema diri yang positif. Faktor budaya juga mempengaruhi hal yang penting
bagi self esteem individu tersebut (Baron Robert A, Byrne Donn 2004).
3. Konsep extended self (diri yang diperluas) yaitu bukan hanya citra diri yang
mempengaruhi pembelian suatu produk tetapi produk yang dipilih juga
mempunyai pengaruh terhadap citra diri kita.
Perilaku pembelian lebih diarahkan kepada pencapaian konsep diri agar
menciptakan perilaku pembelian yang sesuai dengan konsep diri tanpa adanya
pengaruh dari luar.

Sumber : http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/54416/12ksa_BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf?sequence=3

MOTIVASI DAN KEBUTUHAN dalam Perilaku Konsumen


Definisi Motivasi
            Motivasi adalah suatu hasrat yang muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh seseorang (konsumen).  Adapun tujuan motivasi konsumen, yaitu, meningkatkan kepuasan, mempertahankan loyalitas, efisiensi, efektivitas,  menciptakan suatu hubungan yang harmonis antara produsen atau penjual dengan pembeli atau konsumen.

Definisi Kebutuhan
            Kebutuhan sendiri adalah sesuatu gap atau pembatas antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi sebenarnya. Kebutuhan muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan (state of tension) antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan.  Adapun faktor-faktor yang mendorong munculnya kebutuhan tersebut, yaitu:
1.      Faktor Dalam (biologis & fisiologis): rasa lapar dan haus
2.      Faktor Luar (lingkungan): aroma makanan
Kebutuhan juga dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu:
·         Kebutuhan Primer yaitu untuk mempertahankan kelangsungan hidup
·         Kebutuhan Skunder yaitu sebagai reaksi terhadap lingkungan dan budayanya

Kebutuhan yang dirasakan (felt needs), yaitu kebutuhan yang dibedakan berdasarkan kepada manfaatnya, antara lain: kebutuhan utilitarian (utilitarian needs), yaitu berdasarkan kepada manfaat fungsional dan karakteristik. Sedangkan, kebutuhan hedonik (ekspresive), yaitu berdasarkan sifat psikologis seperti rasa puas, emosi dan gengsi. Tujan ada karena adanya kebutuhan, artinya untuk memenuhi kebutuhan konsumen harus memiliki tujuan akan tindakannya.
Teori Kebutuhan Maslow atau Hierarki Kebutuhan
            Teori Engel menyatakan bahwa semakin sejahtera seseorang maka semakin kecil persentase pendapatannya untuk membeli makanan. Selan itu, McClelland mengembangakan suatu teori motivasi yang disebut dengan McClelland’s Theory of Learned Needs.
Teori McClelland
1.      Kebutuhan Untuk Sukses  (achievement) à Aktualisasi diri dan ego
2.      Kebutuhan Afiliasi (Affiliation) à Hubungan sosial dan rasa aman
3.      Kebutuhan Kekuasaan (Power) à Aktualisasi diri dan ego 
Motivasi dan Strategi Pemasaran
·         Segmentasi à Target pasar dapat diarahkan berdasarkan tingkat kebutuhan konsumen
·         Positioning à citra produk atau jasa yang ingin dilihat oleh konsumen (persepsi konsumen)         

konsep motivasi dan hubungannya terhadap perilaku konsumen
Motivasi adalah apa yang merangsang semua perilaku manusia. Proses motivasi diinisiasi oleh ketegangan sebuah puas ingin menciptakan. Seorang individu membuat semua usaha yang mungkin untuk mengurangi ketegangan itu. Kebutuhan atau motif yang berada di akar proses motivasi dari berbagai jenis. kebutuhan fisiologis atau kebutuhan primer meliputi kebutuhan udara, air, makanan, pakaian, tempat tinggal dan jenis kelamin, sementara kebutuhan psikologis atau sekunder meliputi kebutuhan kasih sayang, status keamanan, dll

Kebutuhan bisa positif, negatif, utilitarian atau hedonis, sadar atau tidak sadar, sehingga tujuan yang dirumuskan. Seseorang memiliki banyak tujuan dan tujuan-tujuan ini tidak pernah berakhir dan kegagalan untuk memuaskan mereka kadang-kadang menyebabkan frustrasi. Seseorang dapat menangani hal ini dengan menargetkan pengganti atau tujuan-tujuan yang terkait atau dengan membangun mekanisme pertahanan seperti agresi, regresi rasionalisasi, dan penarikan.


Hal ini sangat penting bagi pemasar untuk mengetahui motif yang mempengaruhi konsumen ketika mereka memulai dan mengarahkan semua perilaku manusia (termasuk perilaku konsumen).Banyak psikolog seperti William McGuire dan Henry Murray telah mencoba ke daftar motif manusia, motif yang terdaftar oleh mereka yang relevan dengan pemasar dalam mempelajari perilaku konsumen juga. Sementara McGuire menggunakan model koma empat untuk menjelaskan pemasar bahwa konsumen dipengaruhi oleh kombinasi kebutuhan dan tidak perlu tunggal, Murray mencoba daftar 27 motif dan menyatakan bahwa orang memiliki satu set kebutuhan yang sama, namun mereka memprioritaskan mereka berbeda.

Teori motivasi juga membantu pemasar dalam memahami bagaimana konsumsi konsumen dipengaruhi oleh kebutuhan mereka. Abraham Maslow mencoba untuk mengatur kebutuhan yang signifikan tersebut menjadi hirarki lima tingkat, tergantung pada kepentingan relatif perlu seseorang. Lima tingkat kebutuhan yang diberikan oleh dia adalah 1) kebutuhan fisiologis, 2) kebutuhan keamanan, 3) kebutuhan sosial, 4) harga kebutuhan egoistis atau diri dan akhirnya 5) kebutuhan aktualisasi diri. Trio kebutuhan (lain teori motivasi) berurusan dengan tiga macam yaitu kebutuhan., Kebutuhan kekuasaan, kebutuhan afiliasi dan kebutuhan untuk pencapaian. Kebutuhan ini memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku konsumen. Motivational konflik adalah sebuah konsep yang berkaitan dengan motif bertentangan pelanggan. Di sini pemasar mencoba untuk proyek produk sebagai solusi untuk konflik tersebut.

Dengan motivasi yang seperti pengaruh besar pada pola konsumsi pelanggan, ada kebutuhan yang kuat untuk mempelajarinya sebagai bagian dari riset pemasaran. teknik kualitatif pengamatan, kelompok fokus dan wawancara mendalam dan analisis yang digunakan untuk memahami motif laten dari konsumen. Tingkat keterlibatan (bagaimana konsumen tertarik adalah tentang produk a) menentukan tingkat motivasi konsumen harus membeli produk tersebut. Sumber rangsangan dan situasi khusus konsumen di saat ia datang ke dalam kontak dengan produk juga menentukan tingkat keterlibatan.

Hal ini bisa bervariasi dalam derajat, yaitu keterlibatan pelanggan bisa berada pada tahap dasar (itu bisa pasif atau rendah), di sisi lain keterlibatan bisa aktif atau tinggi. Pemasar harus memahami bagaimana konsumen tertarik Nya dan sesuai merumuskan strategi dan iklan. Untuk menyimpulkan, pemasar yang mengerti berbagai kebutuhan yang memotivasi konsumen dalam membeli sebuah produk atau layanan dan mampu untuk produk desain dan menampilkan nya sesuai akan berhasil.

Big pemasar, di kali, juga dapat menerapkan strategi cakupan pasar penuh, yang selanjutnya dapat dibedakan (bauran pemasaran yang berbeda untuk produk yang berbeda) atau tidak dibedakan (bauran pemasaran tunggal untuk semua produk). Kadang-kadang pemasar mengadopsi segmen mikro terlalu banyak, yang kemudian menjadi berlebihan. Dalam kasus seperti itu, semua segmen yang dipukuli bersama-sama dengan campuran pemasaran tunggal (segmentasi counter).

sumber : http://pawanbagus.blogspot.com/2012/03/motivasi-dan-kebutuhan-dalam-prilaku.html
http://ishalmorons.blogspot.com/2010/11/motivasi-adalah-apa-yang-merangsang.html

Sikap


Definisi Sikap
Menurut Sarnoff (dalam Sarwono, 2000) mengidentifikasikan sikap sebagai kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif  (favorably) atau secara negatif (unfavorably)terhadap obyek – obyek tertentu. D.Krech dan R.S Crutchfield (dalam Sears, 1999) berpendapat bahwa sikap sebagai organisasi yang bersifat menetap dari proses motivasional, emosional, perseptual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu.
Sedangkan La Pierre (dalam Azwar, 2003) memberikan definisi sikap sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan. Lebih lanjut Soetarno (1994) memberikan definisi sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.
Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.
Proses belajar sosial terbentuk dari interaksi sosial. Dalam interaksi sosial, individu membentuk pola sikap tertentu terhadap berbagai objek psikologis yang dihadapinya. Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah:
1. Pengalaman pribadi. Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi harus meninggalkan kesan yang kuat. Karena itu, sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut melibatkan faktor emosional. Dalam situasi yang melibatkan emosi, penghayatan akan pengalaman akan lebih mendalam dan lebih lama berbekas.
2. Kebudayaan. B.F. Skinner (dalam, Azwar 2005) menekankan pengaruh lingkungan (termasuk kebudayaan) dalam membentuk kepribadian seseorang. Kepribadian tidak lain daripada pola perilaku yang konsisten yang menggambarkan sejarah reinforcement (penguatan, ganjaran) yang dimiliki. Pola reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.
3. Orang lain yang dianggap penting. Pada umumnya, individu bersikap konformis atau searah dengan sikap orang orang yang dianggapnya penting. Kecenderungan ini antara lain dimotivasi oleh keinginan untuk berafiliasi dan keinginan untuk menghindari konflik dengan orang yang dianggap penting tersebut.
4. Media massa. Sebagai sarana komunikasi, berbagai media massa seperti televisi, radio, mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan-pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut, apabila cukup kuat, akan memberi dasar afektif dalam mempersepsikan dan menilai sesuatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
5. Institusi Pendidikan dan Agama. Sebagai suatu sistem, institusi pendidikan dan agama mempunyai pengaruh kuat dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman akan baik dan buruk, garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan dari pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya.
6. Faktor emosi dalam diri. Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian bersifat sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan lebih tahan lama. contohnya bentuk sikap yang didasari oleh faktor emosional adalah prasangka.
Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu.
Komponen utama sikap
Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran, perasaan, dan perilaku.
Keyakinan bahwa "Diskriminasi itu salah" merupakan sebuah pernyataan evaluatif. Opini semacam ini adalah komponen kognitif dari sikap yang menentukan tingkatan untuk bagian yang lebih penting dari sebuah sikap -komponen afektifnya. Perasaan adalah segmen emosional atau perasaan dari sebuah sikap dan tercermin dalam pernyataan seperti "Saya tidak menyukai John karena ia mendiskriminasi orang-orang minoritas." Akhirnya, perasaan bisa menimbulkan hasil akhir dari perilaku[2]. Komponen perilaku dari sebuah sikap merujuk pada suatu maksud untuk berperilaku dalam cara tertentu terhadap seseorang atau sesuatu.
Perilaku mengikuti sikap
Pada akhir tahun 1960-an, hubungan yang diterima tentang sikap dan perilaku ditentang oleh sebuah tinjauan dari penelitian. Berdasarkan evaluasi sejumlah penelitian yang menyelidiki hubungan sikap-perilaku, peninjau menyimpulkan bahwa sikap tidak berhubungan dengan perilaku atau, paling banyak, hanya berhubungan sedikit. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sikap memprediksi perilaku masa depan secara signifikan dan memperkuat keyakinan semula dari Festinger bahwa hubungan tersebut bisa ditingkatkan dengan memperhitungkan variabel-variabel pengait.
Sikap kerja utama
Kepuasan kerja
Kepuasan kerja adalah perasaan positif tentang pekerjaan seseorang yang merupakan hasil dari evaluasi karakteristik-karakteristiknya.
Keterlibatan pekerjaan
Keterlibatan pekerjaan adalah tingkat di mana seseorang memihak sebuah pekerjaan, berpartisipasi secara aktif di dalamnya, dan menganggap kinerja penting sebagai bentuk penghargaan diri.
Komitmen organisasional
Komitmen organisasional adalah tingkat di mana seseorang memihak sebuah organisasi serta tujuan-tujuan dan keinginannya untuk mempertahankan keanggotaan dalam organisasi itu. Tiga dimensi terpisah komitmen organisasional adalah:
§  Komitmen Afektif
§  Komitemn Berkelanjutan
§  Komitmen Normatif

Sumber : - http://www.duniapsikologi.com/sikap-pengertian-definisi-dan-faktor-yang-mempengaruhi/
- http://id.wikipedia.org/wiki/Sikap

Sabtu, 03 November 2012

Pemanfaatan Teknik Informasi Dalam Suatu Perusahaan/Organisasi


Teknologi Informasi

Menurut O’Brien (2006:28) teknologi adalah suatu jaringan komputer
yang terdiri atas berbagai komponen pemrosesan informasi yang
menggunakan berbagai jenis  hardware,  software, manajemen data, dan
teknologi jaringan informasi. Menurut Aji (2005:6) informasi adalah data yang terolah dan sifatnya menjadi data lain yang bermanfaat dan biasa
disebut informasi.

Pembahasan

Penggunaan TI dalam sebuah organisasi sangatlah penting, untuk menerapkan TI
haruslah dilihat karakteristik organisasi tersebut. Apakah dengan IT mampu
meningkatkan efisiensi sebuah perusahaan, sehingga dalam penerapan TI dibutuhkan
orang yang handal yang dapat berjalan dengan baik. Peran teknologi informasi bagi
sebuah perusahaan dapat kita lihat dengan menggunakan kategori yang diperkenalkan
oleh G.R. Terry, ada 5 peranan mendasar teknologi informasi di sebuah perusahaan,
yaitu:

1. Fungsi Operasional akan membuat struktur organisasi menjadi lebih ramping
telah diambil alih fungsinya oleh teknologi informasi. Karena sifat
penggunaannya yang menyebar di seluruh fungsi organisasi, unit terkait dengan
manajemen teknologi informasi akan menjalankan fungsinya sebagai supporting
agency dimana teknologi informasi dianggap sebagai sebuah firm infrastructure.

2. Fungsi Monitoring and Control mengandung arti bahwa keberadaan teknologi
informasi akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan aktivitas di levell
manajerial embedded di dalam setiap fungsi manajer, sehingga struktur
organisasi unit terkait dengannya harus dapat memiliki span of control atau peer relationship yang memungkinkan terjadinya interaksi efektif dengan para
manajer di perusahaan terkait.

3. Fungsi Planning and Decision mengangkat teknologi informasi ke tataran peran
yang lebih strategis lagi karena keberadaannya sebagai enabler dari rencana
bisnis perusahaan dan merupakan sebuah knowledge generator bagi para
pimpinan perusahaan yang dihadapkan pada realitas untuk mengambil sejumlah
keputusan penting sehari-harinya. Tidak jarang perusahaan yang pada akhirnya
memilih menempatkan unit teknologi informasi sebagai bagian dari fungsi
perencanaan dan/atau pengembangan korporat karena fungsi strategis tersebut
di atas.

4. Fungsi Communication secara prinsip termasuk ke dalam firm infrastructure
dalam era organisasi moderen dimana teknologi informasi ditempatkan
posisinya sebagai sarana atau media individu perusahaan dalam berkomunikasi,
berkolaborasi, berkooperasi, dan berinteraksi.

5. Fungsi Interorganisational merupakan sebuah peranan yang cukup unik karena
dipicu oleh semangat globalisasi yang memaksa perusahaan untuk melakukan
kolaborasi atau menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan lain. Konsep
kemitraan strategis atau partnerships berbasis teknologi informasi seperti pada
implementasi Supply Chain Management atau Enterprise Resource Planning
membuat perusahaan melakukan sejumlah terobosan penting dalam mendesain
struktur organisasi unit teknologi informasinya. Bahkan tidak jarang ditemui
perusahaan yang cenderung melakukan kegiatan pengalihdayaan atau outsourcing sejumlah proses bisnis terkait dengan manajemen teknologi
informasinya ke pihak lain demi kelancaran bisnisnya.
Tipe dan fungsi peranan teknologi informasi ini secara langsung akan
berpengaruh terhadap rancangan atau desain struktur organisasi perusahaan;
dan struktur organisasi departemen, divisi, atau unit terkait dengan sistem
informasi, teknologi informasi, dan manajemen informasi.

Kesimpulan

            Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa peranan TI dalam suatu
perusahaan besar, sedang maupun kecil, baik itu swasta, BUMN maupun pemerintahan,
semuanya membutuhkan sistem TI yang dapat mengintegrasikan informasi sehingga
dapat mendukung infrastruktur perusahaannya.

Sumber

Sumber Daya Ekonomi


Mengingat sumber daya ekonomi bersifat langka, pengalokasiannya harus memberi manfaat bagi manusia.
a. Sumber daya alam
Ada dua jenis sumber daya alam, yaitu sumber daya alam yang dapat diperbarui dan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Sumber daya alam dapat diperbarui tidak akan habis selama masih bisa dikembangbiakkan. Contohnya tumbuhan dan hewan. Sementara itu, sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui terbentuk melalui proses alam selama jutaan tahun sehingga tidak dapat diperbarui oleh manusia. Contohnya bahan tambang dan minyak bumi.

Semua kekayaan alam yang tersedia tersebut harus dimanfaatkan dan dikelola dengan baik sehingga memberi manfaat besar bagi kemakmuran rakyat. Misalnya tanah dapat dimanfaatkan untuk mendirikan bangunan, lahan pertanian, perkebunan, peternakan, dan perumahan. Cadangan mineral seperti emas dan besi digunakan sebagai bahan baku industri. Batu bara dan minyak bumi dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar.

Oleh karena sebagian sumber daya alam sifatnya tidak dapat diperbarui, harus dimanfaatkan secara hemat dan efisien. Jika tidak, bukan tidak mungkin akan terkuras dan akhirnya habis. Kelak, generasi selanjutnya tidak lagi bisa menikmati kekayaan alam tersebut.

b. Sumber daya modal
Sumber daya modal atau kapital memberi kontribusi bagi kegiatan produksi maupun pendukung sarana sosial dan ekonomi. Uang, mesin, peralatan industri, gedung, kendaraan, jalan raya, dan jembatan merupakan contoh modal. Modal ini digunakan untuk meningkatkan produksi dan pembangunan ekonomi.

Pengalokasian dan pemanfaatan sumber daya modal tersebut harus dilakukan secara merata dan efisien. Selain itu, sumber daya modal juga harus dijaga dengan sebaik-baiknya. Salah satu caranya dengan merawat agar tahan lama.

c. Sumber daya manusia
Sumber daya manusia memegang peranan penting dalam proses produksi dan pembangunan. Hal tersebut karena manusia itu sendiri adalah pelaksana utama dalam seluruh proses pembangunan maupun produksi. Dalam proses produksi ada dua unsur dari sumber daya manusia, yaitu tenaga kerja dan kewirausahaan.

Sumber daya manusia memanfaatkan kekuatan fisik, keahlian, dan kepribadian manusia. Kekuatan fisik manusia tercermin dari kesehatan dan kemampuan fisiknya. Manusia yang sehat dan kuat tentu dapat bekerja dan belajar dengan baik. Selain fisik yang sehat dan kuat, keahlian yang dimiliki seseorang juga menentukan kualitas sumber daya manusia. Sementara itu, kepribadian ditentukan oleh sikap jujur dan keadilan seseorang.


Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/economics/2177387-alokasi-sumber-daya-ekonomi/#ixzz2B980LDoa

Sumber Daya Konsumen


Perilaku konsumen adalah aktivitas seseorang saat mendapatkan, mengkonsumsi, dan membuang barang atau jasa (Blackwell, Miniard, & Engel, 2001). Sedangkan The American Marketing Association mendefinisikan perilaku konsumen sebagai interaksi dinamis dari pengaruh dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia melakukan pertukaran aspek hidupnya. Dalam kata lain perilaku konsumen mengikutkan pikiran dan perasaan yang dialami manusia dan aksi yang dilakukan saat proses konsumsi (Peter & Olson, 2005). Perilaku konsumen menitikberatkan pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari individu. Perilaku konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi (Hanna & Wozniak, 2001).

Sumber Daya Konsumen Ekonomi (Uang)
Uang adalah alat transaksi yang sangat diperlukan oleh konsumen untuk membeli produk. Keputusan Konsumen sehubungan dengan produk dan merek sangat  dipengaruhi oleh jumlah sumber daya ekonomi misalnya uang. Tanpa uang konsumen tidak bisa membeli apapun.  Pembelian sangat dipengaruhi oleh pendapatan konsumen sama halnya dengan, harapan konsumen mengenai pendapatan masa datang menjadi variabel penting dalam meramalkan perilaku konsumen.

Sumber Daya Konsumen (Waktu)
 Sumber Daya Temporal – Waktu
Waktu menjadi variabel yang semakin penting dalam memahami perilaku konsumen. Karena, konsumen semakin mengalami kemiskinan akan waktu. Namun demikian ada suatu bagian waktu yang dihabiskan untuk kegiatan yang sangat pribadi yaitu waktu senggang. Produk yang diklasifikasikan menurut sifat waktu konsumen disebut barang waktu (time goods).
•       Barang yang Menggunakan Waktu
Produk yang memerlukan pemakaian waktu dalam mengkonsumsinya. Contoh: Berenang, sepak bola, badminton (waktu Senggang) Tidur, perawatan tubuh, pulang pergi (waktu wajib).
•       Barang Penghemat Waktu Produk yang menghemat waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu leluasa mereka. Contoh: Rice Cooker, Mesin Cuci, Handphone.
SumberDaya Sementara
a. Barang yang Menggunakan Waktu
 
Produk yang memerlukan pemakaian waktu dala mengkonsumsinya. Contoh: Menonton TV, Memancing, Golf, Tennis (waktu Senggang) Tidur, perawatan pribadi, pulang pergi (waktu wajib)
b. Barang Penghemat Waktu
 
Produk yang menghemat waktu memungkinkan konsumen meningkatkan waktu leluasa mereka. Contoh: oven microwave, pemotong rumput, fast food

1.3 Sumber Daya Kognitif
Pengertian sumber daya kognitif adalah kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme.

Sumber Daya Konsumen (Perhatian)
Sumber Daya Kognitif – Perhatian
Sumberdaya Kognitif menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan berbagai kegiatan pengolahan informasi Alokasi Kapasitas Kognitif dikenal sebagai perhatian (attention). Perhatian terdiri dari dua dimensi:
•  Arahan (direction) menggambarkan fokus perhatian
• Intensitas mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Karena kapasitas tersebut terbatas, orang harus selektif dalam apa yang mereka perhatikan dan berapa banyak perhatian dialokasikan selama pengolahan informasi.


AIDA (marketing)


Artikel ini adalah tentang istilah pemasaran, AIDA. Untuk kegunaan lain dari istilah, lihat Aida (disambiguasi).
AIDA adalah singkatan yang digunakan dalam pemasaran dan iklan yang menggambarkan daftar umum peristiwa yang mungkin terjadi ketika konsumen terlibat dengan iklan.
A - Perhatian (Kesadaran): menarik perhatian pelanggan.
I - Bunga: meningkatkan minat pelanggan dengan berfokus pada dan menunjukkan keuntungan dan manfaat (bukan berfokus pada fitur, seperti dalam iklan tradisional).
D - Desire: meyakinkan pelanggan bahwa mereka inginkan dan menginginkan produk atau layanan dan bahwa hal itu akan memenuhi kebutuhan mereka.
A - Aksi: pelanggan mengarah kepada mengambil tindakan dan / atau pembelian.
Menggunakan sistem seperti ini memberikan satu pemahaman umum tentang bagaimana target pasar secara efektif. Pindah dari langkah ke langkah, seseorang kehilangan beberapa persen dari prospek.

Sejarah

Istilah dan pendekatan biasanya dikaitkan dengan iklan Amerika dan pelopor penjualan, E. St Elmo Lewis. Dalam salah satu publikasi pada iklan, Lewis didalilkan setidaknya tiga prinsip yang iklan harus sesuai:
Misi dari iklan adalah untuk menarik pembaca, sehingga ia akan melihat iklan dan mulai membacanya, kemudian menarik baginya, sehingga ia akan terus membacanya, kemudian untuk meyakinkan dia, sehingga ketika ia telah membaca itu ia akan percaya. Jika iklan berisi tiga kualitas keberhasilan, itu adalah iklan yang sukses.
Menurut FG Coolsen, "Lewis mengembangkan diskusi prinsip salinan pada rumus bahwa salinan yang baik harus menarik perhatian, membangkitkan minat, dan menciptakan keyakinan." Bahkan, rumus dengan tiga langkah muncul secara anonim dalam, 9 Februari 1898 . isu Ink Printers ': "Misi iklan adalah untuk menjual barang Untuk melakukan hal ini, ia harus menarik perhatian, tentu saja, tapi menarik perhatian adalah hanya detil tambahan Pengumuman harus berisi materi yang akan menarik dan meyakinkan setelah. perhatian telah menarik ".
Pentingnya menarik perhatian pembaca sebagai langkah pertama dalam menulis copy diakui di awal literatur iklan seperti yang ditunjukkan oleh Handbook untuk Pengiklan dan Panduan Beriklan:
Kata-kata pertama selalu dicetak di ibukota, untuk menangkap mata, dan penting bahwa mereka harus seperti akan cenderung untuk menangkap perhatian orang-orang kepada siapa mereka ditangani, dan mendorong mereka untuk membaca lebih lanjut.
Sebuah pendahulu untuk Lewis adalah Joseph Addison Richards (1859-1928), seorang agen periklanan dari New York City yang menggantikan ayahnya ke arah salah satu biro iklan tertua di Amerika Serikat. Pada tahun 1893, Richards menulis sebuah iklan untuk bisnis yang mengandung hampir semua langkah-langkah dari model AIDA, tetapi tanpa hirarki memerintahkan masing-masing elemen:
Bagaimana untuk menarik perhatian pada apa yang dikatakan dalam iklan Anda, bagaimana untuk menahannya sampai berita diceritakan, bagaimana untuk menginspirasi kepercayaan dalam kebenaran apa yang Anda katakan, bagaimana untuk membasahi selera untuk informasi lebih lanjut, bagaimana untuk membuat informasi yang memperkuat kesan pertama dan menyebabkan pembelian, bagaimana melakukan semua ini, - Ah, itu mengatakan, berita bisnis mengatakan, dan itu bisnis saya.
Antara Desember 1899 dan Februari 1900, Karpet Bissell Perusahaan Sweeper menyelenggarakan kontes untuk iklan ditulis terbaik. Fred Macey, ketua Fred Macey Co di Grand Rapids (Michigan), yang dianggap ahli periklanan pada waktu itu, ditugaskan tugas untuk memeriksa pengiriman ke perusahaan. Dalam tiba pada suatu keputusan, ia menganggap antara lain setiap iklan di hormat berikut:
1 Iklan harus menerima "Perhatian," 2d. Memiliki perhatian yang harus membuat "Bunga," 3d. Memiliki minat pembaca harus menciptakan "Keinginan untuk membeli," 4. Setelah menciptakan keinginan untuk membelinya harus membantu "Keputusan".
Contoh pertama yang diterbitkan atas konsep umum, bagaimanapun, adalah dalam sebuah artikel oleh Frank Hutchinson Dukesmith pada tahun 1904. Empat Dukesmith ini adalah langkah perhatian, minat, keinginan, dan keyakinan. Contoh pertama dari singkatan AIDA berada di sebuah artikel oleh CP Russell pada tahun 1921 di mana ia menulis:
Cara mudah untuk mengingat rumus ini adalah untuk memanggil dalam "hukum asosiasi," yang merupakan handal tua diantara alat bantu memori. Perlu dicatat bahwa, membaca ke bawah, huruf pertama dari kata-kata mantra opera Ketika Anda memulai surat "Aida.", Kemudian, mengatakan "Aida" untuk diri sendiri dan Anda tidak akan pergi jauh salah, setidaknya sejauh sebagai bentuk surat yang bersangkutan.

Pengembangan Baru

Kemudian versi teori telah mengedit langkah AIDA. [8] fase baru seperti kepuasan (Aidas)  dan kepercayaan (AIDCAS) telah ditambahkan.
S - Kepuasan - memuaskan pelanggan sehingga mereka menjadi pelanggan berulang dan memberikan arahan untuk produk.
Salah satu modifikasi yang signifikan dari model adalah pengurangan untuk tiga langkah (CAB) [11]:
Kognisi (Kesadaran atau belajar)
Mempengaruhi (Feeling, bunga atau keinginan)
Perilaku (Aksi).
Seiring dengan perkembangan ini datang pandangan yang lebih fleksibel dari urutan langkah-langkah yang diambil, menunjukkan bahwa pengaturan yang berbeda dari model mungkin terbukti lebih efektif untuk berbagai konsumen produk-hubungan.
Selain itu, sebagai ahli telah meneliti teori ini praktek lebih pasti dan teori telah dikembangkan termasuk TIREA tersebut skala yang berfokus pada mogok proses pengambilan keputusan menjadi komponen-komponen lebih jelas. Setiap langkah berfokus pada perjalanan progresif melalui proses pengambilan keputusan.
T - Pemikiran
I - Bunga (Desire)
R - Risiko (Evaluasi)
E - Engagement
A - Aksi
Bagian Pemikiran dari proses pengambilan keputusan dapat terjadi secara acak dan dirangsang oleh berbagai rangsangan, tetapi menghasilkan sedikit tidak ada perhatian oleh seorang individu. Ini hanya menciptakan kesadaran sesuatu tapi menghasilkan sedikit atau tidak tertarik. Mirip dengan melihat makanan setelah satu telah menjadi penuh setelah makan ... seseorang mungkin menyadari makanan yang ada tapi ada sedikit kebutuhan atau kepentingan dalam memperoleh hal itu.
Bunga terjadi ketika seseorang ingin atau membutuhkan sesuatu - kelaparan adalah contoh. Tingkat bunga (atau keinginan) meningkat sebagai kelaparan dan atau keinginan dan keinginan meningkat.
Risiko dan evaluasi itu terjadi sebagai peningkatan suku. Seseorang mungkin menginginkan steak tapi menahan mendapatkan itu karena biaya, atau alasan lain (seperti masalah kesehatan yang terkait, dll)
Engagement - Sebuah respon emosional ketika Bunga dan Keinginan melebihi Risiko.
Aksi - Sebuah respon fisik untuk memperoleh apa yang diinginkan dan keinginan dan bersedia menanggung risiko dan / atau biaya dalam memperoleh hal itu.

Budaya referensi

Karakter Blake dalam film Glengarry Glenn Ross oleh David Mamet membuat referensi penting untuk AIDA. Sebuah perbedaan kecil di sini adalah bahwa D dalam pembicaraan motivasi Blake didefinisikan sebagai keputusan yang bukan keinginan, mungkin menyiratkan bahwa langkah ketiga tidak hanya imbues pelanggan dengan kerinduan produk tetapi juga bersedia untuk berkomitmen positif terhadap pembelian.